A. Hakikat Pembelajaran
1) Pengertian Pembelajaran
Dalam
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat
20 dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Menurut
Ahmad (2012) Pembelajaran adalah proses interaksi pada peserta didik dengan
pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran juga
merupakan proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengann baik.
Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku
dimanapun dan kapanpun. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan peserta
didik agar dapat terjadi suatu proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan,
penguasan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada
peserta didik.
Gagne (1992)
menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar
siswwa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka
panjang. Belajar sesorang dapat diperngaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal
Dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses memberikan bantuan terhadap
perseta didik agar dapat memperoleh ilmu pengetahuan, pemahaman, kemahiran
serta pembentukan sikap pada peserta didik.
Menurut
Sumiati dan Asra (dalam Ahmad 2012) mengelompokkan komponen
komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi
pembelajaran, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode
pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar,
sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan
yang telah direncanakan sebelumnya.
a. Tujuan Pembelajaran
Menurut H. Daryanto (dalam Ahmad 2012)
tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil
pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan
diukur.
b. Materi Pembelajaran
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, dkk (dalam
Ahmad 2012) menerangkan bahwa materi pembelajaran adalah substansi yang akan
disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses
belajar mengajar tidak akan berjalan.
c. Motode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Penggunaan metode pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar metode pembelajaran yang digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Penggunaan metode pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar metode pembelajaran yang digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu.
d. Media Pembelajaran
Menurut
Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2009) mengklasifikasikan penggunaan media
berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu penggunaan medua dikelas dan penggunaan media diluar kelas.
e. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi
pembelajaran merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan
proses pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan
pembelajaran diketahui hasilnya. Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan
tepat.
f. Peserta didik/Siswa
Siswa merupakan komponen inti dari
pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin belajar yang tinggi.
g. Pendidik/Guru
Guru merupakan komponen utama yang
sangat penting dalam proses pembelajaran karena tugas guru bukan hanya sebagai
fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu adalah sebagai pengelola
pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h. Lingkungan tempat belajar
Lingkungan yang ditata dengan baik akan
menciptakan kesan positif dalam diri siswa, sehingga siswa menjadi lebih senang
untuk belajar dan lebih nyaman dalam belajar.
3) Pengelolaan Proses Pembelajaran
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, serta pemberian
sikap dan kepercayaan kepada peserta didik. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah proses untuk membanttu peserta didik dapat berjalan dengan baik.
B. Model Desain Pembelajaran
1) Pengertian Model Desain Pembelajaran
Menurut
Sambaugh (dalam Sanjaya 2013) Desain sebagai proses rangkaian kegiatan yang
bersifat linear. Desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang
sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan
bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan
sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi
keberhasilan. Sedangkan menurut
Gentry (dalam Sanjaya 2013) Berpendapat bahwa desain pembelajaran berkenaan
dengan proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk
mencapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk efektivitas
pencapaian tujuan.
Dapat
disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah suatu sistem desain pembelajaran
yang berupa perencanaan dan pengembangan yang disusun untuk merancangan
pembelajaran beserta media pembelajaran melalui model, strategi dan teknik
pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembalajaran secara baik dan
efektif.
2) Kriteria Desain Instruksional
Beberapa kriteria desain instruksional yang baik:
a. Berorientasi pada siswa
Sistem pembelajaran siswa merupakan
komponen kunci yang harus dijadikan orientasi dalam mengembangkan perencanaan
dan desain pembelajaran. Sebab desain pembelajaran dirancang untuk mempermudah
siswa belajar. Proses perencanaan dan pengembang dapat dilihat dan dipahami
dahulu beberapa hal tentang siswa antara lain, kemampuan dasar dan gaya
belajar.
b. Berpihak pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem dapat
mempresiksi keberhasilannya akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian
melalui pendekatan yang sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat
menghambat terhadap pencapaian tujuan.
c. Teruji secara empiris
Desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas
dan efisiensinya secara empiris.
3) Model-model Desain Instruksional
Perencanaan pembelajaran berkaitan denan desain pembelajaran. Keduanya memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan
lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikukulum
sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran
untuk membantu proses belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Zook (2001)
bahwa desain intruksinonal adalah a
systematic thingking process to help learners learn. Banyak model desain pembelajaran
yang dikembangakan oleh para ahli. Di bawah
ini disajikan beberapa di antaranya.
a. Model Kemp
Model desain sistem instruksional yang
di Model desain sistem instruksional
yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp
pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul.
Mengembangkan sistem instruksional, menurut kemp dari mana ssja bias, asal saja
urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi
untuk mencapai hasil yang maksimal. Oleh
karena itu model kemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat
luwes.
Komponen-komponen dalam suatu desainn instruksional
menurut Kemp adalah:
- Hasil yang ingin dicapai
- Analisis tes mata pelajaran
- Tujuan khusus belajar
- Aktivitas belajar
- Sumber belajar
- Layanan pendukung
- Evaluasi belajar
- Tes awal
- Karakteristik belajar
Kesembilan komponen ini merupakan suatu siklus yang terus menerus direvisi baik evaluasi si mutife dan formatife dan diartikan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai prioritas, dan berbagai kendala yang muncul.
b. Model Banaty
Model desain sistem pembelajaran dari banathy berbeda dengan model Kemp. Model ini
memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui
tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program
pembelajaran yaitu:
- Menganalisis dan merumuskan tujuan
- Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
- Menganalisa dan merumuskan kegiatan belajar
- Merancang sistem
- Mengimplementasi dan melakukan kontrol kualitas sistem
- Mengadakan perbaikan dan perubahan berdarkan hasil evaluasi
c. Model Dick and Carey
Seperti desain model Banathy, dalam mendesain pembelajaran model Dick and Cery harus dimulai dengan mengindetifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance
goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal
siswa terlebih dahulu. Tujuan khusus yang harus dicapai selanjutnya dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan
khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi
pembelajaran. Langkah akhir dari desaim adalah melakukan evaluasi, yakni
evaluasi formatife dan evaluasi sumative. Berdasarkan hasil evaluasi inilah
selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.
d. Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PPSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai
pedoman bagi guru melaksanakan proses
belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni:
1) Merumuskan tujuan, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam
perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan
harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar,
berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk
tingkah laku.
2) Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk
masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan
tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah
ditentukan.
3) Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
4) Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan
metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
5) Pelaksanaan program, yaitu
kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes
dan melakukan perbaikan.
C. Analisis Kebutuhan
Analisis
kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengindetifikasi faktor-faktor
pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih menentukan media yang
tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan
mutu pendidikan.
Menganalisis kebutuhan merupakan salah satu kegiatan penting dalam mendesain pembelajaran. Mendesain
pembelajaran yang diawali dengan studi kebutuhan memungkinkan hasilnya dapat
dimanfaatkan secara optimal oleh individu yang memerlukannya. Analisis
kebutuhan merupakan proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan untuk dipecahkan1) Pengertian Analisis
Menurut kamus
besar bahasa Indonesia adalah kata bantu penguraian suatu pokok atas berbagai
bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta hubungan antara bagian untuk
mendapatkan pengertian yang tepat dan pemahaman makna keseluruhan proses
pencarian jalan keluar yang berangkat dari dugaan akan keberadaanya,
penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Menurut Habibi (2015:1), Kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan
manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan
kenyamanan. Sedangkan menurut Kaufan (dalam sihombing dan marni 2012) analisis
kebutuhan dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk mengidentifikasi alat dan
metode yang diperlukan dalam rangka menghilangkan kesenjangan antara kenyataan
dan harapan.
Dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan adalah suatu usaha
untuk mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan anak. Analisis kebutuhan juga
disebut suatu kajian terhadap asepek-aspek kebutuhan siswa baik melalui
komponen-komponen dan sarana yang diperlukan siswa untuk mencapai tujuan yang
diharapkan.
2) Fungsi Analisis Kebutuhan
- Mengeindetifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
- Mengindentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang mengganggu pkerjaan atau lingkungan pendiidkan.
- Mengindentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang mengganggu pkerjaan atau lingkungan pendiidkan.
- Menyajikan prioritas-priorits untuk memilih tindakan
- Memberikan data basis untuk menganalisa efektivitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan:
1. Kebutuhan normatif (membandingkan peserta didik dengan standar nasional misalnya UAN,
SNMPTN, dan sebagainya.
2. Kebutuhan komperatif (Membandingkan peseerta didik pasa
satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel, misalnya hasi EBTANAS SLTP A
dan SLTP B.
3. Kebutuhan yang dirasakan yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukkan
kesejangan antara tingkat keterampilan atau kenyataan yang Nampak dengan yang
dirasakan. Cara terbaik untuk mengindentifikasi kebutuhan ini dengan cara
interview.
4. Kebutuhan masa depan yaitu mengindentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misalnya penerapan teknik pembelajaran yang baru dan sebagainya.
5. Kebutuhan
insidentil yang mendesak, yang akan terjadi dimasa
mendatang. Misalnya penerapan teknik pembelajaran yang baru dan sebagainya. Kebutuhan
insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul diluar dugaan yang sangat berpengaruh. Misalnya bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam dsb.
sangat berpengaruh. Misalnya bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam dsb.
3) Langkah-langkah Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a. Pengumpulan informasi
b. Indentifikasi kesenjangan
c. Analisis perfomance
d. Indentifikasi hambatan dan sumber
e. Indentifikasi karakteristik siswa
f. Indentifikasi prioritas dab tujuan
g. Merumuskan masalah
D. Analisis Karakter Siswa
Kegiatan
menganalisis perilaku dan karakteristik siswa dalam mengembangkan pembelajaran
merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem
pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut.
Ada dua karakterisitik awal siswa yang perlu dipahami oleh guru yakni:
1) Latar belakang akademuk mencakup
a. Jumlah siswa .
Guru perlu mengetahui berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. emahaman guru terhadap jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
Guru perlu mengetahui berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. emahaman guru terhadap jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
b. Latar belakang siswa.
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang siswa dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang siswa dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.
c. Indeks prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk
diketahui guru, agar materi yang akan disajikan:
- Dapat
disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki. Bahkan siswa yang
memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama.
- Guru
juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang
disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa.
- Untuk mengetahui indeks
prestasi siswa dapat di peroleh melalui nilai rapor sebelumnya atau seleksi
kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga.
d. Tingkat Intelegensinya
Memahami
tingkat intelegensi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi :
- Tingkat
kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran.
- Mengukur tingkat kedalaman
dan keluasan materi. Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru
dapat menyusun materi, metode, media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap
siswa.
- Tingkat intelegensi siswa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau
tes potensi akademik (TPA).
e. Keterampilan membaca.
Salah
satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan
membaca, keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam
menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca.
Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca siswa dapat dilakukan melalui tes
membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah
ditentukan.
f. Nilai Ujian.
Nilai
ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal siswa.
untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal siswa
terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
g. Kebiasaan belajar/gaya belajar
Aspek
lain yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar
siswa atau yang disebut dengan learning
style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa.
Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang
mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan
strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda.
Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan siswa yang
berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang dimiliki oleh
masing-masing siswa. seorang siswa yang senang membaca, kurang terbiasa belajar
dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau berdiskusi. Demikian juga,
siswa yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak akan belajar dengan baik jika
dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih lanjut, gaya belajar atau learning style sering diartikan sebagai
karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan
informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi
tersebut.
Keanekaragaman
gaya belajar siswa perlu diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru
memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang
relevan dengan gaya belajar siswa. . Karena prinsip dari efektivitas proses
pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran
berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai
oleh siswa.
Minat
belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam memahami karakteristik
siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/melihat tingkat antusias
siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu
melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh
penilaian yang mencerminkan tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang
akan disampaikan.
i. Harapan/ keinginan siswa
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian angket.
Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi
terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita mereka:
1. Usia
Faktor usia dapat dijadikan patokan
dalam memahami karakteristik siswa. memahami usia siswa akan berpengaruh
terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan
belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan
pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.
2. Kematangan.
Kematangan juga dapat dijadikan sebagai
patokan dalam memahami karakteristik siswa, di mana kematangan secara
psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam
pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa. Dalam ilmu
psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan.
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari pada
fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan
jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia.
Mengarah kepada terjadinya proses kematangan.
2) Manfaat Memahami Karakter Siswa
a. Memperoleh
gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang
berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat)
bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu
mudah atau tidak terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih
baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya.
Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara
optimal.
b. Memporoleh
gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa.
dengan berdasarkanpengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan
ilustrasi yang tidak asing lagi bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih
mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
c. Mengetahui
latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga,
seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan
demensi-demensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial
emosional dan mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang
lebih serasi dengan metode yang lebih efesien.
d. Mengtahui
tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat
perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara
belajar siswa. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran
yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku
yang harus diperoleh oleh siswa sebelum dia mulai membaca.
e. Untuk
menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat
digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara
yang stu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
f. Mengetahui
aspirasi dan kebutuhan para siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi
yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara
individual maupun secara kelompok.
g. Mengetahui tingkat penguasaan pengetahuan
yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya. Perkembangan aspek kognitif dan
intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar dalam merencanakan pengetahuan baru,
yang dirancang secara tepat.
h. Mengetahui tingkat penguasaan bahasa siswa, baik
lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan bahasa menjadi dasar pertimbangan
dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih mudah dipahami dan dicerna oleh
siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan kemampuan berbahasa para siswa
agar terjadi komunikasi yang seimbang dan berhasil. Mengetahui sikap dan nilai
yang menjiwai pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan dasar pertimbangan
dalam perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan pribadinya dalam
proses belajar.
Didalam
menganalisis karakter siswa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau “prerequisite skills”
seperti kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan dan kempuan
gerak atau psychomotor skills misalnya keterampilan menggerakkan tangan, kaki
dan badan.
2. karakterisrik yang berhubungan dengan latar belakang dan status social dan kebudayaan sosialnya
3. Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian: sikap, perasaan, minat dsb.
3) Teknik analisis karakteristik awal siswa.
- Dengan
menggunakan catatan dan dokumen yang tersedia. Misalnya surat tanda tamat
belajar (STTB) nilai rapor, nilai tes intelegensi, nilai tes masuk.
- Menggunakan
tes prasyarat dab tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa lebih memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan untuk mengetahui apakah siswa tidak memiliki pengetahuan atas keterampilan yang diperlukan atau digunakan untuk mengikuti suatu pelajaran. sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan.
- Mengadakan konsultasi individual. Guru dapat mengadakan pendekatan secara personal untuk guru memperoleh informasi mengenai minat, sikap dll.
- Menggunakan angket atau kuisioner. Angket disusun kemudian disampaikan kepada siswa untuk mengetahui gaya belajar mereka.




Komentar
Posting Komentar