A. Hakikat Pembelajaran
     1) Pengertian Pembelajaran
Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 20 dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Menurut Ahmad (2012) Pembelajaran adalah proses interaksi pada peserta didik dengan pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran juga merupakan proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengann baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku dimanapun dan kapanpun. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan peserta didik agar dapat terjadi suatu proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.
Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswwa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang. Belajar sesorang dapat diperngaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal

Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses memberikan bantuan terhadap perseta didik agar dapat memperoleh ilmu pengetahuan, pemahaman, kemahiran serta pembentukan sikap pada peserta didik. 

      2) Komponen Pembelajaran


   Menurut Sumiati dan Asra (dalam Ahmad 2012) mengelompokkan komponen komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
a. Tujuan Pembelajaran 
  Menurut H. Daryanto (dalam Ahmad 2012) tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. 
b. Materi Pembelajaran 
  Menurut Syaiful Bahri Djamarah, dkk (dalam Ahmad 2012) menerangkan bahwa materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan.
c. Motode Pembelajaran
   Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Penggunaan metode pembelajaran oleh guru memunkinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar metode pembelajaran yang digunakan oleh guru cepat, guru harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber dan fasilitas, situasi kondisi dan waktu. 
d. Media Pembelajaran
    Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2009) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu penggunaan medua dikelas dan penggunaan media diluar kelas.
e. Evaluasi Pembelajaran
    Evaluasi pembelajaran merupakan penilaian terhadap kemajuan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dengan adanya evaluasi pembelajaran keberhasilan pembelajaran diketahui hasilnya. Evaluasi pembelajaran harus disusun dengan tepat. 
f. Peserta didik/Siswa
   Siswa merupakan komponen inti dari pembelajaran, maka dari itu siswa harus disiplin belajar yang tinggi.
g. Pendidik/Guru
    Guru merupakan komponen utama yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena tugas guru bukan hanya sebagai fasilitator namun ada dua tugas. Kedua tugas itu adalah sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas. 
h. Lingkungan tempat belajar 
    Lingkungan yang ditata dengan baik akan menciptakan kesan positif dalam diri siswa, sehingga siswa menjadi lebih senang untuk belajar dan lebih nyaman dalam belajar.  
     3) Pengelolaan Proses Pembelajaran
     Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, serta pemberian sikap dan kepercayaan kepada peserta didik. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses untuk membanttu peserta didik dapat berjalan dengan baik.  
B. Model Desain Pembelajaran
     1) Pengertian Model Desain Pembelajaran
     Menurut Sambaugh (dalam Sanjaya 2013) Desain sebagai proses rangkaian kegiatan yang bersifat linear. Desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan. Sedangkan menurut Gentry (dalam Sanjaya 2013) Berpendapat bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian tujuan.  
     Dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah suatu sistem desain pembelajaran yang berupa perencanaan dan pengembangan yang disusun untuk merancangan pembelajaran beserta media pembelajaran melalui model, strategi dan teknik pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembalajaran secara baik dan efektif.  
     2)  Kriteria Desain Instruksional
Beberapa kriteria desain instruksional yang baik:
a. Berorientasi pada siswa
   Sistem pembelajaran siswa merupakan komponen kunci yang harus dijadikan orientasi dalam mengembangkan perencanaan dan desain pembelajaran. Sebab desain pembelajaran dirancang untuk mempermudah siswa belajar. Proses perencanaan dan pengembang dapat dilihat dan dipahami dahulu beberapa hal tentang siswa antara lain, kemampuan dasar dan gaya belajar.
b. Berpihak pada pendekatan sistem 
    Melalui pendekatan sistem dapat mempresiksi keberhasilannya akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian melalui pendekatan yang sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan.
c. Teruji secara empiris
Desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. 
     3) Model-model Desain Instruksional 
    Perencanaan pembelajaran berkaitan denan desain pembelajaran. Keduanya  memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikukulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Zook (2001) bahwa desain intruksinonal adalah a systematic thingking process to help learners learn. Banyak model desain pembelajaran yang dikembangakan oleh para ahli. Di bawah  ini disajikan beberapa di antaranya.
a. Model Kemp
 
Model desain sistem instruksional yang di Model desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Mengembangkan sistem instruksional, menurut kemp dari mana ssja bias, asal saja urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk  mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu model kemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes.
Komponen-komponen dalam suatu desainn instruksional menurut Kemp adalah:
- Hasil yang ingin dicapai
- Analisis tes mata pelajaran
- Tujuan khusus belajar
- Aktivitas belajar
- Sumber belajar 
- Layanan pendukung
- Evaluasi belajar
- Tes awal 
- Karakteristik belajar
  Kesembilan komponen ini merupakan suatu siklus yang terus menerus direvisi baik evaluasi si mutife dan formatife dan diartikan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai prioritas, dan berbagai kendala yang muncul. 
b. Model Banaty  


Model desain sistem pembelajaran dari banathy berbeda dengan model Kemp. Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran yaitu:
- Menganalisis dan merumuskan tujuan
- Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
- Menganalisa dan merumuskan kegiatan belajar
- Merancang sistem
- Mengimplementasi dan melakukan kontrol kualitas sistem
- Mengadakan perbaikan dan perubahan berdarkan hasil evaluasi
c. Model Dick and Carey 

   Seperti desain model Banathy, dalam mendesain pembelajaran model Dick and Cery harus dimulai dengan mengindetifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Tujuan khusus yang harus dicapai selanjutnya  dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya  tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran. Langkah akhir dari desaim adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi sumative. Berdasarkan hasil evaluasi inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.
d. Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)

Model PPSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru melaksanakan proses  belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni:
   1) Merumuskan tujuan, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
   2) Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
   3) Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh. 
  4) Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran. 
   5) Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes dan melakukan perbaikan. 
C. Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengindetifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih menentukan media yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan.
Menganalisis kebutuhan merupakan salah satu kegiatan penting dalam mendesain pembelajaran. Mendesain pembelajaran yang diawali dengan studi kebutuhan memungkinkan hasilnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh individu yang memerlukannya. Analisis kebutuhan merupakan proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan untuk dipecahkan
    1) Pengertian Analisis


   Menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kata bantu penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta hubungan antara bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dan pemahaman makna keseluruhan proses pencarian jalan keluar yang berangkat dari dugaan akan keberadaanya, penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. 
  Menurut Habibi (2015:1), Kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan. Sedangkan menurut Kaufan (dalam sihombing dan marni 2012) analisis kebutuhan dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk mengidentifikasi alat dan metode yang diperlukan dalam rangka menghilangkan kesenjangan antara kenyataan dan harapan. 
   Dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan adalah suatu usaha untuk mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan anak. Analisis kebutuhan juga disebut suatu kajian terhadap asepek-aspek kebutuhan siswa baik melalui komponen-komponen dan sarana yang diperlukan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
    2) Fungsi Analisis Kebutuhan

- Mengeindetifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
- Mengindentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang mengganggu pkerjaan atau lingkungan pendiidkan. 
- Menyajikan prioritas-priorits untuk memilih tindakan
- Memberikan data basis untuk menganalisa efektivitas pembelajaran. 
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan:
1. Kebutuhan normatif (membandingkan peserta didik dengan standar nasional misalnya UAN, SNMPTN, dan sebagainya. 
2. Kebutuhan komperatif (Membandingkan peseerta didik pasa satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel, misalnya hasi EBTANAS SLTP A dan SLTP B. 
3. Kebutuhan yang dirasakan yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukkan kesejangan antara tingkat keterampilan atau kenyataan yang Nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengindentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
4. Kebutuhan masa depan yaitu mengindentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misalnya penerapan teknik pembelajaran yang baru dan sebagainya. 
5. Kebutuhan insidentil yang mendesak, yang akan terjadi dimasa mendatang. Misalnya penerapan teknik pembelajaran yang baru dan sebagainya. Kebutuhan insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul diluar dugaan yang sangat berpengaruh. Misalnya bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam dsb. sangat berpengaruh. Misalnya bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam dsb.
   3) Langkah-langkah Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a. Pengumpulan informasi
b. Indentifikasi kesenjangan
c. Analisis perfomance
d. Indentifikasi hambatan dan sumber 
e. Indentifikasi karakteristik siswa
f. Indentifikasi prioritas dab tujuan
g. Merumuskan masalah
D. Analisis Karakter Siswa
   Kegiatan menganalisis perilaku dan karakteristik siswa dalam mengembangkan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut. 
Ada dua karakterisitik awal siswa yang perlu dipahami oleh guru yakni:
1) Latar belakang akademuk mencakup
    a. Jumlah siswa .
Guru perlu mengetahui berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. emahaman guru terhadap jumlah siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.

    b. Latar belakang siswa.
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang siswa dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.

    c. Indeks prestasi 
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan disajikan:
- Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki. Bahkan siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama. 
- Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa. 
- Untuk mengetahui indeks prestasi siswa dapat di peroleh melalui nilai rapor sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga. 
   d. Tingkat Intelegensinya 

Memahami tingkat intelegensi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi : 
- Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran. 
- Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi. Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode, media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa. 
- Tingkat intelegensi siswa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi akademik (TPA).
   e. Keterampilan membaca.

  Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca siswa dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
   f. Nilai Ujian.

  Nilai ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal siswa. untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal siswa terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
   g. Kebiasaan belajar/gaya belajar


  Aspek lain yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar siswa atau yang disebut dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang  mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswa. seorang siswa yang senang membaca, kurang terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau berdiskusi. Demikian juga, siswa yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak akan belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih lanjut, gaya belajar atau learning style sering diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
  Keanekaragaman gaya belajar siswa perlu diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang relevan dengan gaya belajar siswa. . Karena prinsip dari efektivitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai oleh siswa.

   h. Minat belajar


   Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/melihat tingkat antusias siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
   i. Harapan/ keinginan siswa

Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian angket. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita mereka:
1. Usia
   Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik siswa. memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa. 
2. Kematangan.
    Kematangan juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, di mana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari pada fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia. Mengarah kepada terjadinya proses kematangan.
2) Manfaat Memahami Karakter Siswa

   a. Memperoleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat) bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu mudah atau tidak terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya. Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara optimal. 

  b.  Memporoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa. dengan berdasarkanpengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan ilustrasi yang tidak asing lagi bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.

  c. Mengetahui latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga, seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan demensi-demensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial emosional dan mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang lebih serasi dengan metode yang lebih efesien.

d. Mengtahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara belajar siswa. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku yang harus diperoleh oleh siswa sebelum dia mulai membaca.

e. Untuk menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara yang stu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.

f.  Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara individual maupun secara kelompok. 
g. Mengetahui tingkat penguasaan pengetahuan yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya. Perkembangan aspek kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar dalam merencanakan pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat. 
h. Mengetahui tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan bahasa menjadi dasar pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih mudah dipahami dan dicerna oleh siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan kemampuan berbahasa para siswa agar terjadi komunikasi yang seimbang dan berhasil. Mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan pribadinya dalam proses belajar. 

Didalam menganalisis karakter siswa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau “prerequisite skills” seperti kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan dan kempuan gerak atau psychomotor skills misalnya keterampilan menggerakkan tangan, kaki dan badan.  
2. karakterisrik yang berhubungan dengan latar belakang dan status social dan kebudayaan sosialnya 
3. Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian: sikap, perasaan, minat dsb.
3) Teknik analisis karakteristik awal siswa.

- Dengan menggunakan catatan dan dokumen yang tersedia. Misalnya surat tanda tamat belajar (STTB) nilai rapor, nilai tes intelegensi, nilai tes masuk.
-  Menggunakan tes prasyarat dab tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa lebih memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan untuk mengetahui apakah siswa tidak memiliki pengetahuan atas keterampilan yang diperlukan atau digunakan untuk mengikuti suatu pelajaran. sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan.
- Mengadakan konsultasi individual. Guru dapat mengadakan pendekatan secara personal untuk guru memperoleh informasi mengenai minat, sikap dll.
- Menggunakan angket atau kuisioner. Angket disusun kemudian disampaikan kepada siswa untuk mengetahui gaya belajar mereka.


 







 

 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini